Rugrats Chuckie Finster

Senin, 26 Maret 2012

Gaby dan Lagunya

Kalian masih ingat, cerita atau mungkin film Gaby dan Lagunya ? Kisah nyata tentang cewek bernama Gaby, yang kehilangan seorang kekasih . Disini gue mau ulang ceritanya, dibaca yaa ;)


Aku ingat saat pertama kali mengenalnya sewaktu ia datang padaku. Hujan begitu lebat dan ia ada di depan pintu rumahku. Berdiri melindungi sesuatu di tangannya. Sekilas aku bisa melihat ia membawa gitar yang tertutup jaket kulit. Menurutku, ia sangat aneh, ia lebih mengutamakan gitarnya dibanding tubuhnya yang basah kuyup oleh dinginnya hujan . Segera aku berlari mendekatinya, menawarkan dia untuk berteduh di dalam rumahku.
                Ia menolak karena tak ingin merepotkanku. Aku yakinkan dia bahwa tempatku aman dan tidak akan ada yang melarangnya berteduh hingga hujan reda. Dari perkenalan itu aku memanggilnya “Popo”. Dia pria lajang berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai musisi.
                Saat  aku tanya alasan dia lebih memilih melindungi gitarnya dibanding dirinya sendiri, dengan santai ia menjawab, “Bagiku gitar ini adalah nyawa pertamaku, suara hatiku dan kekasih tak bernapas.”
                Ah, aku pikir mungkin dia sudah gila. Perkenalan itu membawa sebuah janji. Janji ia akan datang kembali kepadaku sebagai seorang guru yang akan mengajarkan cara bermain gitar . Bermain gitar adalah sesuatu yang baru dalam hidupku. Namun, satu-satunya alasan yang membuatku ingin belajar gitar adalah ketampanan wajahnya yang membuatku tak berdaya. Rasanya dia benar-benar pria sempurna yang baik hati.
***
                Gaby sedang menatap hujan.
                Ia hanya butuh waktu tiga hari untuk menepati janjinya padaku. Ia datang dengan gitar yang sama. Ia mulai mengajarkan cara meresapi keindahan suara petikan senar gitar.
                Aku yang biasanya bodoh, dengan cepat belajar bermain gitar. Melihat keseriusanku ia cukup bangga. Hanya dalam waktu dua minggu aku sudah mahir, Ia menawarkanku untuk bergabung dalam band yang ia bentuk. Namanya band caramel. Jangan-jangan band itu memang semanis gula.
                Tanpa basa-basi aku setuju untuk bergabung dalam bandnya. Aku tak pernah tahu bahwa band itu sedang terbelit sebuah masalah.
                Selain Popo, ada Nando di band itu. Lainnya, dua orang kakak beradik: Angle dan Agnes. Semua menerimaku dengan hangat. Namun, tetap saja yang paling membuatku terkesan hanya Popo. Dia telah berhasil membuatku menjadi seorang bintang. Dengan modal suaraku yang pas-pasan, Popo menanamkan rasa percaya diri padaku untuk menjadi vokalis band itu. Anehnya, yang lain oke-oke saja dengan keputusan Popo. Tentu saja kami harus rutin berlatih.
                Saat mulai dekat dengan semuanya, aku menyadari bahwa Nando memiliki masalah emosi. Dia mudah meledak, tapi kulihat ia sempat marah ketika seorang wanita cantik bernama Gitta muncul si hadapan kami saat kami sedang mengisi acara di kafe. Nando seperti ingin menerkam wanita itu. Ternyata dia vokalis yang aku gantikan.
                Entah mengapa, saat itu ada rasa cemburu yang menjalari sisi hatiku. Apalagi beberapa kali Gitta hadir di kafe. Ia seolah ingin kembali bersayang-sayangan dengan Popo. Syukurlah, Nando tidak sudi Gitta ada disana.
                Sesungguhnya aku tidak tahu alasan Nando begitu membenci Gitta. Angel bilang padaku bahwa Gitta telah menghancurkan keutuhan band saat ia memutuskan keluar. Bahkan gara-gara keluarnya Gitta, band ini gagal di final kompetisi sehingga harus mengubur mimpi mereka untuk menjadi band rekaman. Itu impian yang wajar dari setiap band.
                Aku melewati hari-hariku dengan kecemburuan melihat kedekatan Popo dan Gitta. Aku takut mengungkapkan perasaanku kepada Popo. Sesungguhnya aku mencintainya. Aku hany memendamnya buat diriku sendiri.
                Sampai akhirnya suatu hari Nando menyatakan cintanya padaku. Aku terkejut, karena tidak pernah berharap hal itu. Tentu saja aku tidak bisa menjawab apa pun. Nando bilang, dia akan bersabar menunggu hingga aku bersedia menjadi kekasihnya. Oh my God!   
***
                Akhirnya aku mendapatkan kesempatan berduaan dengan Popo setelah sekian lama ia sibuk bersama Gitta. Aku katakan padanya bahwa Nando menginginkan cintaku.
                Popo terdiam. Aku tahu, tentu saja ia tidak peduli. Toh aku tidak pernah ada dihatinya. Akhirnya Popo hanya memberiku senyum. Sudah, begitu saja tanggapannya.
***
                Ternyata sore harinya aku malah melihat Popo dan Nando bertengkar hebat. Aku tak tahu persis hal yang mereka ributkan. Katanya sih Popo hanya bilang ke Nando bahwa sedari awal ia mencintaiku, namun ia lebih mencintai band ini sehingga berharap tidak ada kisah asmara yang terjalin dalam band ini. Popo tak mau kejadian Gitta terulang.
                Sedih rasanya hatiku ketika tahu Popo berkata begitu. Aku tahu, ia masih memiliki mimpi bahwa band kami kelak meraih sukses. Aku pun paham, hidupnya hanya memiliki sedikit pilihan. Jadi aku akan bersabar hingga kami bisa bersatu.
                Aku bertekad untuk berlatih lebih giat agar band kami menjadi juara di kompetisi band sehingga membuat Popo mendapatkan kebahagiannya dan impiannya.
***
                Ketika aku sedang merenung sendirian, Gitta mendatangiku. Ia memaki dan membuatku bersedih. Menurut Gitta, aku telah merebut Popo darinya. Aku tidak sanggup berkata apa-apa. Kok kisah cinta di band ini ruwet begini ya ?
                Puas memakiku, Gitta pergi. Enak saja dia membuatku menangis!
                Rupanya Popo melihatku menangis. Ia langsung menghampiriku dan kami pun bicara. Aku bertanya banyak hal, mulai dari hal yang paling kuingin tahu yaitu alasannya tidak menjalani hidup bersama Gitta. Kan dia pernah bilang bahwa gadis itu begitu indah baginya.
                “Bagiku, Gitta adalah masa lalu. Masa depanku adalah kamu. Kumohon, bersabarlah untuk cinta kita. Aku harus raih impianku terhadap band ini, baru setelah itu aku bisa fokus untuk membahagiakan kamu,”
                Aku ragu sekaligus merasa ini sebuah mimpi. Mengapa ia bisa memilih aku ?
                “Karena kamulah yang membuat aku semakin kuat menjalani hidup. Band ini bangkit karena kamu, dan kamu adalah harapan untuk terus bertahan. Bukan Gitta.”
                Sehabis berkata begitu, Popo memberikan gitar yang pertama kali mempertemukan kami. Katanya, sebagai hadiah buatku. Kini ia percaya bahwa nyawa keduanya bukanlah gitar ini, melainkan aku.
                Aku tersentuh. Ah, betapa bahagianya kami andai saja impiannya sudah terwujud. Demi Popo, aku akan menyimpan baik-baik janji cinta kamu hingga kompetinsi band berakhir dan kami telah mencapai mimpi.
***
                Ternyata hidup tidak selalu berakhir bahagia. Kami berhasil meraih impian sebagai juara bandm tapi di final, aku hanya berjuang bertiga dengan Agnes dan Angel. Tanpa Popo dan Nando. Keduanya mendadak tak bisa hadir.
                Popo mempertaruhkan nasib band itu padaku. Dengan berlimpah semangat yang kumiliki, aku berjuang untuk band itu. Semua bimbingan, perhatian, dan kebaikan yang selama ini telah aku dapatkan dari Popo menjadikan diriku mampu untuk kuat berjuang.
***
                Saat hatiku bersorak semringah hendak menyerahkan kemenangan ini kepada Popo, aku malah mendapatkan tangisan Nando. Ia meneleponku agar aku segera datang ke rumah sakit.
                Duk! Hatiku berubah jadi kalut. Kekalutan itu mencapai puncaknya begitu kutahu Popo ternyata mengalami kecelakaan saat menuju tempat kompetisi band.
                Dalam keadaan terluka parah, ia tetap tidak ingin band ini berhenti di final untuk kedua kalinya sehingga  meminta Nando—yang berangkat bersamanya namun keadaannya tak parah—agar menyerahkan nasib band ini padaku.
                Aku melihat Popo terbaring tanpa membuka matanya. Ia terpejam atau tertidur pulas? Pelan-pelan kuletakkan tanganku di sampingnya, Popo terbangun dengan suara yang tak jelas terdengar.
                Seakan berusaha mengumpulkan kekuatannya, perlahan-lahan Popo berkata, “Terimakasih, Gaby, kamu mewujudkan impian band kita. Aku minta maaf tidak bisa menepati janji untuk melanjutkan cinta kita. Mungkin tidak pada saat ini. Kalau Tuhan mengizinkan, di lain kehidupan aku berjanji untuk menjadi bagian dari hidup kamu.”
                Aku tak kuasa berkata apa-apa selain menangis dan membiarkan itu menjadi kalimat terakhir dalam hidupnya untukku.
***
                Aku belajar satu hal dalam kehidupan: cinta tak selalu harus ditunjukkan dengan ungkapan kasih saying. Popo telah mengajariku cinta lewat hal yang bisa ia lakukan untuk membuatku menjadi seorang pemusik. Membuatku sadar bahwa aku memiliki arti disampingnya dan di dunia.
                Aku tak bisa berbohong bahwa aku seakan tak bisa hidup tanpa Popo. Rasanya tak ada yang bisa aku lakukan setelah Popo meninggalkanku untuk selamanya.
                Ada dua hal yang aku tahu setelah semua terjadi. Popo meninggal karena perbuatan jahat Gitta yang akhirnya terungkap bahwa wanita itu sengaja menabraknya. Hal lain adalah kenyataan bahwa ternyata cinta kami tidak bisa bersatu di dunia.
***
                Aku memeluk gitar kenagan kami, mengayunkan jariku untuk terakhir kali. Bagaimana harus kubuktikan kepada dunia, betapa aku kehilangan Popo. Aku memainkan sebuah lagu yang bisa menjadi nyawa kedua untuk menyambung cinta kami. Lagu yang akan membuat cinta kami menjadi abadi.
                Percayalah, Sahabat, cinta tidak harus ditunjukkan dengan kata-kata. Cinta bisa ditunjukkan dengan sebuah perjuangan untuk meraih mimpi. Cinta bisa ditunjukkan dengan sikap.
                Selamat jalan, Popo. Semoga kehidupan kedua kita benar-benar ada saat aku telah berhenti bernapas nanti.
T A M A T
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar