Aku ingat saat pertama kali mengenalnya sewaktu ia datang
padaku. Hujan begitu lebat dan ia ada di depan pintu rumahku. Berdiri
melindungi sesuatu di tangannya. Sekilas aku bisa melihat ia membawa gitar yang
tertutup jaket kulit. Menurutku, ia
sangat aneh, ia lebih mengutamakan gitarnya dibanding tubuhnya yang basah kuyup
oleh dinginnya hujan . Segera aku
berlari mendekatinya, menawarkan dia untuk berteduh di dalam rumahku.
Ia
menolak karena tak ingin merepotkanku. Aku yakinkan dia bahwa tempatku aman dan
tidak akan ada yang melarangnya berteduh hingga hujan reda. Dari perkenalan itu
aku memanggilnya “Popo”. Dia pria lajang berusia 25 tahun yang berprofesi
sebagai musisi.
Saat aku tanya alasan dia lebih memilih melindungi
gitarnya dibanding dirinya sendiri, dengan santai ia menjawab, “Bagiku gitar
ini adalah nyawa pertamaku, suara hatiku dan kekasih tak bernapas.”
Ah, aku
pikir mungkin dia sudah gila. Perkenalan itu membawa sebuah janji. Janji ia
akan datang kembali kepadaku sebagai seorang guru yang akan mengajarkan cara
bermain gitar . Bermain gitar adalah sesuatu yang baru dalam hidupku. Namun,
satu-satunya alasan yang membuatku ingin belajar gitar adalah ketampanan
wajahnya yang membuatku tak berdaya. Rasanya dia benar-benar pria sempurna yang
baik hati.
***
Gaby sedang menatap hujan.
Ia
hanya butuh waktu tiga hari untuk menepati janjinya padaku. Ia datang dengan
gitar yang sama. Ia mulai mengajarkan cara meresapi keindahan suara petikan
senar gitar.
Aku
yang biasanya bodoh, dengan cepat belajar bermain gitar. Melihat keseriusanku
ia cukup bangga. Hanya dalam waktu dua minggu aku sudah mahir, Ia menawarkanku
untuk bergabung dalam band yang ia bentuk. Namanya band caramel. Jangan-jangan
band itu memang semanis gula.
Tanpa
basa-basi aku setuju untuk bergabung dalam bandnya. Aku tak pernah tahu bahwa
band itu sedang terbelit sebuah masalah.
Selain
Popo, ada Nando di band itu. Lainnya, dua orang kakak beradik: Angle dan Agnes.
Semua menerimaku dengan hangat. Namun, tetap saja yang paling membuatku
terkesan hanya Popo. Dia telah berhasil membuatku menjadi seorang bintang.
Dengan modal suaraku yang pas-pasan, Popo menanamkan rasa percaya diri padaku
untuk menjadi vokalis band itu. Anehnya, yang lain oke-oke saja dengan
keputusan Popo. Tentu saja kami harus rutin berlatih.
Saat
mulai dekat dengan semuanya, aku menyadari bahwa Nando memiliki masalah emosi.
Dia mudah meledak, tapi kulihat ia sempat marah ketika seorang wanita cantik
bernama Gitta muncul si hadapan kami saat kami sedang mengisi acara di kafe.
Nando seperti ingin menerkam wanita itu. Ternyata dia vokalis yang aku
gantikan.
Entah
mengapa, saat itu ada rasa cemburu yang menjalari sisi hatiku. Apalagi beberapa
kali Gitta hadir di kafe. Ia seolah ingin kembali bersayang-sayangan dengan
Popo. Syukurlah, Nando tidak sudi Gitta ada disana.
Sesungguhnya
aku tidak tahu alasan Nando begitu membenci Gitta. Angel bilang padaku bahwa
Gitta telah menghancurkan keutuhan band saat ia memutuskan keluar. Bahkan
gara-gara keluarnya Gitta, band ini gagal di final kompetisi sehingga harus
mengubur mimpi mereka untuk menjadi band rekaman. Itu impian yang wajar dari
setiap band.
Aku
melewati hari-hariku dengan kecemburuan melihat kedekatan Popo dan Gitta. Aku
takut mengungkapkan perasaanku kepada Popo. Sesungguhnya aku mencintainya. Aku
hany memendamnya buat diriku sendiri.
Sampai
akhirnya suatu hari Nando menyatakan cintanya padaku. Aku terkejut, karena
tidak pernah berharap hal itu. Tentu saja aku tidak bisa menjawab apa pun.
Nando bilang, dia akan bersabar menunggu hingga aku bersedia menjadi
kekasihnya. Oh my God!
***
Akhirnya
aku mendapatkan kesempatan berduaan dengan Popo setelah sekian lama ia sibuk
bersama Gitta. Aku katakan padanya bahwa Nando menginginkan cintaku.
Popo
terdiam. Aku tahu, tentu saja ia tidak peduli. Toh aku tidak pernah ada
dihatinya. Akhirnya Popo hanya memberiku senyum. Sudah, begitu saja
tanggapannya.
***
Ternyata
sore harinya aku malah melihat Popo dan Nando bertengkar hebat. Aku tak tahu
persis hal yang mereka ributkan. Katanya sih Popo hanya bilang ke Nando bahwa
sedari awal ia mencintaiku, namun ia lebih mencintai band ini sehingga berharap
tidak ada kisah asmara yang terjalin dalam band ini. Popo tak mau kejadian
Gitta terulang.
Sedih
rasanya hatiku ketika tahu Popo berkata begitu. Aku tahu, ia masih memiliki
mimpi bahwa band kami kelak meraih sukses. Aku pun paham, hidupnya hanya
memiliki sedikit pilihan. Jadi aku akan bersabar hingga kami bisa bersatu.
Aku
bertekad untuk berlatih lebih giat agar band kami menjadi juara di kompetisi
band sehingga membuat Popo mendapatkan kebahagiannya dan impiannya.
***
Ketika
aku sedang merenung sendirian, Gitta mendatangiku. Ia memaki dan membuatku
bersedih. Menurut Gitta, aku telah merebut Popo darinya. Aku tidak sanggup
berkata apa-apa. Kok kisah cinta di band ini ruwet begini ya ?
Puas
memakiku, Gitta pergi. Enak saja dia membuatku menangis!
Rupanya
Popo melihatku menangis. Ia langsung menghampiriku dan kami pun bicara. Aku
bertanya banyak hal, mulai dari hal yang paling kuingin tahu yaitu alasannya
tidak menjalani hidup bersama Gitta. Kan dia pernah bilang bahwa gadis itu
begitu indah baginya.
“Bagiku,
Gitta adalah masa lalu. Masa depanku adalah kamu. Kumohon, bersabarlah untuk
cinta kita. Aku harus raih impianku terhadap band ini, baru setelah itu aku
bisa fokus untuk membahagiakan kamu,”
Aku
ragu sekaligus merasa ini sebuah mimpi. Mengapa ia bisa memilih aku ?
“Karena
kamulah yang membuat aku semakin kuat menjalani hidup. Band ini bangkit karena
kamu, dan kamu adalah harapan untuk terus bertahan. Bukan Gitta.”
Sehabis
berkata begitu, Popo memberikan gitar yang pertama kali mempertemukan kami.
Katanya, sebagai hadiah buatku. Kini ia percaya bahwa nyawa keduanya bukanlah
gitar ini, melainkan aku.
Aku
tersentuh. Ah, betapa bahagianya kami andai saja impiannya sudah terwujud. Demi
Popo, aku akan menyimpan baik-baik janji cinta kamu hingga kompetinsi band
berakhir dan kami telah mencapai mimpi.
***
Ternyata
hidup tidak selalu berakhir bahagia. Kami berhasil meraih impian sebagai juara
bandm tapi di final, aku hanya berjuang bertiga dengan Agnes dan Angel. Tanpa
Popo dan Nando. Keduanya mendadak tak bisa hadir.
Popo
mempertaruhkan nasib band itu padaku. Dengan berlimpah semangat yang kumiliki,
aku berjuang untuk band itu. Semua bimbingan, perhatian, dan kebaikan yang
selama ini telah aku dapatkan dari Popo menjadikan diriku mampu untuk kuat
berjuang.
***
Saat
hatiku bersorak semringah hendak menyerahkan kemenangan ini kepada Popo, aku
malah mendapatkan tangisan Nando. Ia meneleponku agar aku segera datang ke
rumah sakit.
Duk!
Hatiku berubah jadi kalut. Kekalutan itu mencapai puncaknya begitu kutahu Popo
ternyata mengalami kecelakaan saat menuju tempat kompetisi band.
Dalam
keadaan terluka parah, ia tetap tidak ingin band ini berhenti di final untuk
kedua kalinya sehingga meminta
Nando—yang berangkat bersamanya namun keadaannya tak parah—agar menyerahkan
nasib band ini padaku.
Aku
melihat Popo terbaring tanpa membuka matanya. Ia terpejam atau tertidur pulas?
Pelan-pelan kuletakkan tanganku di sampingnya, Popo terbangun dengan suara yang
tak jelas terdengar.
Seakan
berusaha mengumpulkan kekuatannya, perlahan-lahan Popo berkata, “Terimakasih,
Gaby, kamu mewujudkan impian band kita. Aku minta maaf tidak bisa menepati
janji untuk melanjutkan cinta kita. Mungkin tidak pada saat ini. Kalau Tuhan
mengizinkan, di lain kehidupan aku berjanji untuk menjadi bagian dari hidup
kamu.”
Aku tak
kuasa berkata apa-apa selain menangis dan membiarkan itu menjadi kalimat
terakhir dalam hidupnya untukku.
***
Aku
belajar satu hal dalam kehidupan: cinta tak selalu harus ditunjukkan dengan
ungkapan kasih saying. Popo telah mengajariku cinta lewat hal yang bisa ia
lakukan untuk membuatku menjadi seorang pemusik. Membuatku sadar bahwa aku
memiliki arti disampingnya dan di dunia.
Aku tak
bisa berbohong bahwa aku seakan tak bisa hidup tanpa Popo. Rasanya tak ada yang
bisa aku lakukan setelah Popo meninggalkanku untuk selamanya.
Ada dua
hal yang aku tahu setelah semua terjadi. Popo meninggal karena perbuatan jahat
Gitta yang akhirnya terungkap bahwa wanita itu sengaja menabraknya. Hal lain
adalah kenyataan bahwa ternyata cinta kami tidak bisa bersatu di dunia.
***
Aku
memeluk gitar kenagan kami, mengayunkan jariku untuk terakhir kali. Bagaimana
harus kubuktikan kepada dunia, betapa aku kehilangan Popo. Aku memainkan sebuah
lagu yang bisa menjadi nyawa kedua untuk menyambung cinta kami. Lagu yang akan
membuat cinta kami menjadi abadi.
Percayalah,
Sahabat, cinta tidak harus ditunjukkan dengan kata-kata. Cinta bisa ditunjukkan
dengan sebuah perjuangan untuk meraih mimpi. Cinta bisa ditunjukkan dengan
sikap.
Selamat
jalan, Popo. Semoga kehidupan kedua kita benar-benar ada saat aku telah
berhenti bernapas nanti.
T A M A T

Tidak ada komentar:
Posting Komentar